October 28, 2020 Your daily manna

Premiere

A. Meet the Founders

Founders Yayasan Ada Tertulis

Yayasan Ada Tertulis didirikan oleh kami berlima: Tomas, Simon, Veria, Perwira, dan Theofilus. Kami adalah Sarjana dan Master Teologia dari berbagai universitas dan STT di berbagai negara. Simon menjabat sebagai Ketua Yayasan sekaligus Pembina, Tomas sebagai Wakil Ketua Yayasan sekaligus Pembina, Veria sebagai Bendahara merangkap Sekretaris Yayasan, Theofilus sebagai Pengawas Yayasan, dan Perwira sebagai Pengurus Yayasan.

Yayasan Ada Tertulis mempunyai cita-cita untuk membangun iman masyarakat Kristen Indonesia yang berpusat pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, serta mengakarkan iman ini hanya kepada Alkitab saja. Yayasan Ada Tertulis berusaha mewujudkan cita-cita ini dengan menyebarkan Injil Yesus Kristus dan firman Allah kepada seluruh masyarakat Indonesia, dengan berfokus pada media digital yang diharapkan dapat menjangkau lebih banyak orang, termasuk namun tidak terutama, anak-anak muda yang adalah generasi penerus bangsa dan iman Kristen di Indonesia.

B. Latar Belakang Kami

Meskipun kami berlima adalah lulusan teologia, tetapi kami mempunyai pandangan yang sama, yaitu bahwa teologia adalah ilmu yang gagal.

Secara etimologi, teologia berasal dari bahasa Yunani theos yang berarti Tuhan, dan logos yang berarti ucapan atau kata-kata. Ucapan atau kata-kata Tuhan adalah firman. Jadi berdasarkan arti katanya, teologia adalah ilmu yang mempelajari firman Tuhan. Dengan memilih teologia sebagai jurusan kuliah, harapannya adalah kita bisa mempelajari dan semakin mengerti firman Tuhan.

Atau setidaknya seperti itulah yang ada di pikiran kami berlima ketika mengambil kuliah teologia.

Tapi ternyata kami keliru. Dugaan kami salah.

Alih-alih mempelajari firman Tuhan, sepanjang kuliah kami justru belajar filsafat manusia, hermeneutika, moral dasar, etika, alam pikiran, gagasan manusia-manusia terhormat yang di-dogma-kan, metafisika, dan hal-hal lain yang tidak berasal dari firman Tuhan.

Apa yang dipelajari di jurusan Teologia hampir tidak pernah menyinggung firman Tuhan. Tentu ada pembahasan mengenai firman Tuhan dan kami juga membuka Alkitab, tapi firman Tuhan ini justru dijadikan sarana untuk mendukung filsafat, gagasan, atau nilai-nilai humanisme yang dikemukakan terlebih dahulu.

Misalnya jika seorang manusia mempunyai filsafat begini: “Jika Tuhan yang tidak bisa dilihat dan diraba itu dapat disadari keberadaannya oleh manusia, maka sebenarnya manusia itu sedang bertemu dengan agensi penyebab gerak, ide keteraturan alam semesta, ide soal penyebab yang tidak disebabkan (prima clausa), penyebab niscaya dari dunia material, dan gagasan yang menantikan kesempurnaan.

Para pendukung filsafat seperti itu, tentunya bersama dengan sang filsuf, akan mencari ayat-ayat Alkitab yang mendukung filsafatnya itu. Sedangkan ayat-ayat yang tidak mendukung filsafatnya tidak akan dibahas di kelas dan ditutup-tutupi.

Firman Tuhan justru dipakai untuk mendukung ide, gagasan, ideologi, diskursus, dan filsafat dari seonggok debu tanah ciptaanNya sendiri.

Teologia tidak berpusat pada dan tidak mempelajari firman Tuhan itu sendiri.

Teologia tidak bisa melihat bagaimana orang-orang mati dibangkitkan, orang-orang sakit ditahirkan, orang-orang yang lahir cacat disembuhkan. Menurut teologia, orang-orang yang mengalami mujizat seperti itu sebenarnya sedang bertemu dengan agensi penyebab gerak, ide keteraturan alam semesta, ide soal penyebab yang tidak disebabkan (prima clausa), penyebab niscaya dari dunia material, dan gagasan yang menantikan kesempurnaan.

Lucu bukan?

Yohanes 9:30-33 mengatakan, Jawab orang itu kepada mereka: “Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.“”

Teologia adalah yang aneh dan lucu seperti itu. Teologia sudah berubah dari ilmu yang seharusnya berpusat pada firman Tuhan, menjadi bahan aduk otak manusia-manusia yang justru menjadi bodoh karena intelegensia mereka sendiri (Matius 13:14-15).

Teologia tidak mempelajari Alkitab secara utuh, hanya sebagian-sebagian saja dan itupun untuk mendukung gagasan, ide, dan filsafat manusia. Jadi jika kebetulan Anda tertarik untuk masuk sekolah atau jurusan teologia karena berpikir Anda akan mempelajari firman Tuhan secara lebih mendalam di situ, lebih baik lupakan keinginan itu.

Teologia tidak akan membuat Anda lebih mengerti firman Tuhan daripada apa yang sudah Anda mengerti sekarang.

Teologia gagal melahirkan domba-domba baru bagi Tuhan Yesus, dan justru menarik keluar domba-domba yang sudah ada di dalam kandang. Teologia mengubah domba-domba Tuhan menjadi kambing yang terancam dikutuk oleh Tuhan Yesus sendiri.

Seriously, kami berkata dari pengalaman kami.

Tidak di Eropa (karena Tomas kuliah di sana),
tidak di Amerika (karena Simon kuliah di sana),
tidak di Asia (karena Veria, Perwira, dan Theofilus kuliah di Asia),
tidak di manapun juga.
Teologia tidak akan membuat Anda lebih mengerti firman Tuhan.

Karena itu kami berlima mempunyai cita-cita untuk membangun iman masyarakat Kristen Indonesia yang berakar pada Alkitab saja.

Yohanes 8:31-32 mengatakan,

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.

Tubuh Tuhan Yesus (gereja) digembalakan oleh pendeta-pendeta yang adalah lulusan teologia. Sayangnya, teologia sudah terlalu jauh keluar dari firmanNya.

Karena kami tidak mungkin mengubah sistem teologia yang sudah membudaya, maka kami akan membangun masyarakatnya.

Bantu kami melakukannya, karena nasib iman semua anak-anakNya juga berada di tangan Anda sebagai murid-muridNya.

C. Prinsip dan Pandangan Kami

Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Yohanes 5:39-40

Secara etimologi, teologia harus berfokus pada firman Allah dan bukan kepada manusia. Firman Allah adalah perkataan Allah yang disampaikan melalui nabi-nabi (pada masa Perjanjian Lama), Anak TunggalNya (pada masa Perjanjian Baru), dan rasul-rasul dengan inspirasi Roh Kudus (setelah Tuhan Yesus naik ke sorga). Semua firman Allah ini dicatat di dalam kitab-kitab, dan kumpulan kitab-kitab inilah yang disebut Alkitab. Dengan demikian, Alkitab adalah perantara tertinggi dan pewahyuan pribadi Allah yang tidak kelihatan.

Oleh karena Alkitab berisi firman Allah dan mengungkapkan kehendak Allah, maka dalam membacanya pun harus dimengerti dengan pandangan yang berpusat pada Allah, yaitu: Allah berada bukan untuk manusia tetapi manusia berada untuk Allah.

Meskipun Alkitab juga berisi cerita-cerita manusia, tetapi itu adalah kisah nyata pengalaman-pengalaman dan kesaksian-kesaksian dari orang-orang yang pernah bertemu dan berhubungan dengan Allah dalam hidup mereka. Cerita-cerita itu bukanlah yang berisi pemikiran-pemikiran logis manusia, filsafat-filsafat manusia, doktrin-doktrin manusia, ataupun catatan sejarah manusia. Oleh karena itu Alkitab tidak bisa dimengerti dengan pemikiran rasional manusia. Itu yang pada akhirnya akan membuat manusia tersesat sendiri dan salah sangka terhadap Allah.

Dengan demikian kami bertekad untuk memiliki satu referensi saja, yaitu Alkitab. Tanpa ditambah dan dikurangi, bahkan pendapat pribadi pun tidak. Semuanya firman Tuhan. 100% firman Tuhan yang hanya dari Alkitab saja.

Sampai di sini, mungkin Anda menyangka bahwa kami menganut paham Kekristenan Timur dan teologia Yohanes, karena sepertinya prinsip dan pandangan kami bertentangan dengan paham Kekristenan Barat dan teologia Paulus. Masalahnya, rasul Paulus sendiri pernah memberi peringatan untuk tidak melampaui yang ada tertulis.

Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: “Jangan melampaui yang ada tertulis“, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.

1 Korintus 4:6

Bila kebetulan Anda atau gereja Anda menganut paham Kekristenan Barat dan teologia Paulus, bukan berarti Anda atau gereja Anda bisa seenaknya melangkah keluar dari firman Allah, lalu mengambil referensi lain atau berpedoman pada filsafat pemikiran manusia, dan melampaui yang ada tertulis di Alkitab.

Tentu saja kami bisa mengambil referensi dari sumber-sumber lain jika kami mau. Tetapi kami tidak melakukan itu karena kami mengikuti teladan Tuhan Yesus yang tak pernah sekali pun merujuk pada guru-guru atau filsuf-filsuf di zaman pelayananNya.

Jika Anda pernah membaca buku “Ancient Philosophy: From 600 BCE to 500 CE” yang diedit oleh Brian Duignan, Anda akan mengetahui bahwa orang-orang Yahudi sebelum dan di zaman Yesus sering memakai filsafat-filsafat Yunani untuk mempelajari kitab-kitab mereka.

Tetapi Tuhan Yesus tidak berkata-kata menurut ajaran filsafat yang berkembang di zaman itu. Ia bahkan tidak berkata-kata bertindak atas kehendak-Nya sendiri. Tuhan Yesus hanya berkata-kata sebagaimana yang difirmankan Bapa kepadaNya (Yohanes 12:49-50). Bahkan ketika Ia dicobai Iblis sekalipun, Tuhan Yesus hanya bersenjatakan apa yang tertulis dalam Alkitab (Matius 4:1-11).

Justru dengan mengambil referensi dari sumber-sumber lain, kita melangkah keluar dari firmanNya, yang adalah langkah awal menuju penyesatan (Yohanes 8:31-32).

Kalaupun Anda menemukan referensi lain di situs ini, itu hanyalah referensi pendukung untuk topik yang dibahas, dan bukan referensi dasar. Kami membutuhkan referensi pendukung untuk kepentingan SEO.

D. How We Differ from Others

Kami sangat mengerti bahwa ada banyak lembaga rohani Kristen, yayasan Kristen, bahkan gereja-gereja dan denominasi-denominasi yang mengaku bahwa mereka juga mendasarkan dogma dan doktrin mereka pada Alkitab. Jadi apa bedanya mereka dengan kami?

Tetapi sebelum itu semua, kami harus memberikan pernyataan tegas bahwa kami tidak menginduk kepada atau berafiliasi dengan gereja, yayasan atau lembaga Kristen, atau denominasi manapun. Kami tidak mengikuti aliran, dogma, atau doktrin manapun. Kami hanya berpusat pada Trinitas Allah dan bersumber pada Alkitab sebagai satu-satunya warisan pewahyuan yang diberikan Allah kepada manusia.

Meskipun banyak pihak mengaku bahwa mereka juga mendasarkan ajaran mereka pada Alkitab saja, tetapi banyak di antara mereka (untuk tidak mengatakan semua) yang mengedepankan gagasan, pemikiran, dan filsafat manusia terlebih dahulu baru setelah itu mencari ayat-ayat Alkitab yang sesuai untuk mendukung gagasan, pemikiran dan filsafat tersebut. Sementara ayat-ayat lain yang bertentangan dengan gagasan, pemikiran dan filsafat mereka tidak digubris sama sekali.

Yayasan Ada Tertulis tidak mengambil langkah seperti itu. Kami mengkaji Alkitab secara utuh, dari Kejadian sampai Wahyu, baru setelah itu membuat karya (artikel, video, podcast, dll) yang sesuai dengan apa yang tertulis dalam Alkitab. Bila Alkitab bilang “ya” maka kami juga bilang “ya”, bila Alkitab bilang “tidak” maka kami juga bilang “tidak”. Kami juga tidak berkompromi pada penyesuaian zaman seperti yang dilakukan oleh mayoritas gereja, yayasan, dan lembaga karena kami mengimani firman Allah sebagai yang berlaku sejak dulu, sekarang, hingga masa depan. Itu sebabnya kami menamakan yayasan kami Yayasan Ada Tertulis.

Kami juga sangat mengerti bahwa Alkitab mempunyai banyak kekurangan, mulai dari masalah versi penerjemahan, penggunaan bahasa dan tata bahasa yang berubah-ubah (dynamic language), perbedaan metode tafsir, proses kanonisasi yang penuh dengan konflik kepentingan dan politik gereja, kebijakan untuk menyertakan atau tidak menyertakan deuterokanonika dan/atau apokrifa, dll. Alasan-alasan ini yang biasanya digunakan oleh gereja-gereja, denominasi-denominasi, dan lembaga-lembaga atau yayasan-yayasan Kristen untuk mencari sumber lain di luar Alkitab untuk menutupi kekurangan Alkitab tersebut.

Tetapi kami percaya bahwa semuanya ini (terlepas dari kondisi apapun juga) terjadi atas kuasa, kehendak, dan izin Allah (Mazmur 50:11). Dengan mempertimbangkan sisi pembaca, kami memilih untuk tetap memakai Alkitab versi Lembaga Alkitab Indonesia yang saat ini sudah beredar luas di masyarakat. Tetapi kami juga tetap akan merujuk pada Alkitab bahasa asli kapanpun diperlukan walaupun tanpa menyertakan pembahasan yang meleter mengenai arti kata per kata, arti secara keseluruhan, konteks, dan metode tafsir dalam karya-karya kami. Apabila Anda kebetulan menguasai bahasa Inggris, kami menyarankan menggunakan Alkitab versi NIV, NET, atau NKJV karena menurut kami tiga versi terjemahan itulah yang paling mendekati Alkitab bahasa asli.

Terlepas dari itu semua, kami mengimani bahwa Kerajaan Allah tidak terdiri dari perkataan saja, tetapi juga dari kuasa (1 Korintus 4:20). Oleh sebab itu, permasalahan terjemahan Alkitab dan segala kekurangannya tidak begitu berarti selama kita mempunyai kuasa oleh iman seperti yang ada tertulis di Markus 16:17-18. Itu adalah tanda bahwa nama kita sudah terdaftar di sorga (Lukas 10:17-20). Haleluya!