October 29, 2020 Your daily manna

Mengapa Stefanus Dilempari Batu Sampai Mati?

Stefanus Ditunjuk Sebagai Diakon Gereja Mula-Mula

Sesaat sebelum Tuhan Yesus terangkat ke Sorga, Dia menyuruh murid-muridNya untuk menunggu Roh Kudus turun sebelum mereka pergi dari Yerusalem untuk memberitakan Injil Kerajaan Sorga (Kis 1:4-5). Setelah Roh Kudus turun, barulah kedua belas rasul (termasuk Matias yang menggantikan Yudas Iskariot) membangun gereja, yaitu perkumpulan jemaat yang percaya pada Yesus (Kis 2:41). Itulah yang disebut sebagai Gereja Mula-mula.

Kedua belas rasul tersebut bertindak sebagai pemimpin jemaat, atau istilah lebih tepatnya gembala (pendeta). Kata “pendeta” sendiri sebenarnya bukan kata yang tepat karena tidak ada istilah “pendeta” dalam Alkitab. Silahkan Anda buka kitab Kejadian sampai Wahyu, dan Anda tidak akan menemukan satu kata “pendeta” pun di dalamnya. Itu karena “pendeta” adalah kata serapan dari bahasa India yang berarti “guru agama Hindu”. Jadi sebabnya kita sebaiknya memakai istilah dari Alkitab saja, yaitu gembala.

Selain kedua belas gembala yang adalah para rasul itu sendiri, jemaat gereja mula-mula di Yerusalem juga dibantu oleh tujuh diakon. Mereka adalah Stefanus, Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas, dan Nikolaus. Ketujuh diakon tersebut ditahbiskan oleh Roh Kudus dengan tumpangan tangan para rasul (Kis 6:5-6).

Di antara ketujuh diakon tersebut, yang paling terkenal adalah Stefanus dan Filipus. Stefanus adalah orang yang penuh dengan karunia dan kuasa Roh Kudus, dan yang mengadakan mujizat dengan kuasa itu (Kis 6:8). Namun ketika dia bersaksi tentang Yesus, beberapa orang Yahudi berargumen dengan Stefanus tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya yang penuh dengan Roh Kudus (Kis 6:8-10).

Karena kalah argumen, orang-orang Yahudi ini dengan pengecutnya menghasut orang lain untuk bersama-sama menyergap dan menyeret Stefanus ke Mahkamah Agama, lalu menuduh Stefanus sesat dan memajukan saksi-saksi palsu (Kis 6:11-13).

Sampai di sini, sebenarnya apa yang dialami Stefanus adalah hal yang sudah biasa terjadi di kalangan para rasul. Sebelumnya, Petrus dan Yohanes juga sudah ditangkap dan diseret ke Mahkamah Agama setidaknya 2 kali (Kis 4&5). Tetapi apa yang membuat Stefanus dilempari batu sampai mati, sedangkan Petrus dan Yohanes “hanya” dipenjara dan disesah?

Pernyataan Stefanus Ketika Dilempari Batu

Tanpa bermaksud merendahkan hikmat Petrus dan Yohanes, atau membuat Stefanus seolah-olah lebih hebat daripada Petrus dan Yohanes, Stefanus bersaksi dengan berani mengenai sejarah Israel, yaitu masa 2000 tahun dari Abraham hingga Yesus yang adalah periode Perjanjian Lama. Begitu hebatnya hikmat Stefanus ini hingga membuat mukanya seperti muka malaikat (Kis 6:15). Jika Anda malas atau bingung saat membaca kisah Perjanjian Lama, Anda dapat membaca hikmat Stefanus yang penuh dengan Roh Kudus itu sebagai permulaan.

Jadi mengapa Stefanus dilempari batu sampai mati?

Stefanus mengatakan 4 pernyataan keras yang menusuk hati orang Yahudi. Pertama, bahwa yang menampakkan diri kepada Musa bukanlah Allah tetapi malaikat. Kedua, bahwa yang melakukan kesepuluh tulah di Mesir dan memimpin bangsa Israel di padang gurun dalam tiang awan dan tiang api bukanlah Allah tetapi malaikat. Ketiga, bahwa yang berfirman di gunung Sinai dan yang menyampaikan Hukum Taurat kepada Musa bukanlah Allah tetapi malaikat. Keempat, bahwa sekeras apapun usaha orang Yahudi mentaati Hukum Taurat, pada akhirnya mereka selalu membunuh nabi-nabi Allah sampai akhirnya membunuh Allah sendiri yang datang ke dunia dalam wujud manusia.

Empat pernyataan Stefanus ini sangat keras. Bahkan Anda mungkin kaget saat membaca paragraf di atas, karena Anda mungkin juga baru tahu sekarang. Tetapi Anda harus ingat bahwa menjelang kematian Stefanus, Tuhan Yesus memberikan standing ovation kepadanya. Ia yang umumnya duduk di sebelah kanan Allah (Kis 2:34; Markus 14:62; Lukas 22:69; Kolose 3:1), bangkit berdiri saat melihat kematian martir hambaNya itu. Ini adalah sebuah pengakuan akan kebenaran yang telah disampaikan oleh Stefanus.

Mengapa Stefanus Dilempari Batu Sampai Mati
The Stoning of Saint Stephen – Rembrandt (1625)

Benarkah Kesaksian Stefanus yang Mengatakan Allah di Perjanjian Lama adalah Malaikat?

Dalam Kisah Para Rasul 7:30, Stefanus yang penuh dengan hikmat Roh Kudus mengatakan: “Dan sesudah empat puluh tahun tampaklah kepadanya seorang malaikat di padang gurun gunung Sinai di dalam nyala api yang keluar dari semak duri.” Bagi orang Yahudi, kalimat ini adalah hujatan bagi Allah karena selama ini mereka menganggap Allah sendirilah yang menampakkan diri kepada Musa. Sehingga ucapan Stefanus ini dianggap menyetarakan Allah Sang Pencipta dengan malaikat yang adalah makhluk ciptaan.

Tidak ada yang salah dengan kesaksian Stefanus tersebut, karena Tuhan Yesus sendiri pun berfirman bahwa tidak ada orang yang telah melihat Allah. Hanya Anak Allah saja yang telah melihatNya (Yohanes 6:46). Dengan kata lain, Musa, Abraham, Elia, dan nabi-nabi lainnya tidak pernah melihat Allah. Kesalahpahaman orang Yahudi ini (dan juga para penerjemah-penerjemah kita) disebabkan karena kata “elohim” dalam bahasa aslinya punya multi makna. Secara literal, elohim berarti roh, tetapi kata ini juga bisa digunakan untuk menyebut Allah, Tuhan, malaikat, roh manusia, dan bahkan setan-setan. Tergantung pada konteksnya, elohim bisa berarti Allah, malaikat, roh manusia, atau setan-setan.

Dalam perintah pertama pada Sepuluh Perintah, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku“, kata yang digunakan untuk frase “allah lain” adalah elohim.

Maka karena Tuhan Yesus melakukan standing ovation sebagai pengakuan akan kebenaran yang diucapkan Stefanus, kita bisa menyimpulkan bahwa elohim yang dilihat oleh Musa, dan yang melakukan 10 tulah di Mesir, dan yang memimpin bangsa Israel di padang gurun dalam bentuk tiang awan dan tiang api, yang dilihat Musa di gunung Sinai, serta yang memberikan Hukum Taurat di gunung Sinai, adalah malaikat.

Malaikat ini adalah malaikat yang diberikan hak untuk mewakili dan mengemban Nama Allah (Yehova atau YHWH). Tolong jangan salahartikan bahwa kami mengajarkan Yehova atau YHWH adalah malaikat. Bukan itu maksudnya. Maksud kami adalah malaikat ini punya hak untuk melakukan sesuatu atas nama Allah, yang adalah Yehova atau YHWH. Dengan kata lain malaikat khusus. Pengakuan Stefanus ini juga senada dengan ungkapan Paulus yang mengatakan bahwa Hukum Taurat disampaikan oleh malaikat (Galatia 3:19).

Jadi Allah yang kita pikir telah menampakkan diri kepada Musa di semak duri, melakukan sepuluh tulah di Mesir, memimpin bangsa Israel di padang gurun, serta memberikan Hukum Taurat di gunung Sinai itu sebenarnya bukan Allah itu sendiri, tetapi malaikat yang bertugas mewakili Allah dan mengemban NamaNya. Hal ini sudah diakui dan didukung oleh Tuhan Yesus sendiri.

Balada Orang Farisi: Membela Hukum Taurat Tetapi Membunuh Para Nabi

Hukum Taurat adalah kebanggaan orang-orang Yahudi, terutama dari golongan Farisi. Mereka sangat bangga dengan Hukum Taurat, menyombongkan diri bila mentaati Hukum Taurat, senang jika tindakan keagamaan mereka dilihat orang lain dan dipuji, dan sangat menjunjung tinggi diri sendiri sebagai murid Musa.

Inilah yang dicela oleh Stefanus (dan juga Tuhan Yesus pada saat pelayanan resmiNya).

Setelah mengucapkan kesaksian bahwa Hukum Taurat itu disampaikan oleh malaikat, Stefanus kembali menusuk hati orang Farisi dan Yahudi dengan mengatakan bahwa ketaatan mereka pada Hukum Taurat hanyalah sebatas sunat kelamin tetapi tidak bersunat hati dan telinga (Kisah Para Rasul 7:51).

Sunat kelamin adalah kiasan akan sunat hati dan telinga. Kelamin adalah simbol hawa nafsu manusia. Tetapi itu hanya hawa nafsu seksual saja. Yang lebih penting daripada itu adalah hawa nafsu diri yang berupa keserakahan, keangkuhan, kesombongan, ketidaktaatan, ketamakan, kejahatan, meninggikan diri, dll. Sunat hati dan telinga inilah yang tidak dilakukan orang Farisi. Itu sebabnya Allah berfirman melalui nabi Yeremia:

Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu, hai orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murka-Ku mengamuk seperti api, dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat!”

Yeremia 4:4

dan lagi nabi Yeremia berkata:

Kepada siapakah aku harus berbicara dan bersaksi, supaya mereka mau memperhatikan? Sungguh, telinga mereka tidak bersunat, mereka tidak dapat mendengar! Sungguh, firman TUHAN menjadi cemoohan bagi mereka, mereka tidak menyukainya!

Yeremia 6:10

Hal ini juga senada dengan apa yang Paulus katakan:

Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.

Roma 2:28-29

Orang-orang Farisi mentaati Hukum Taurat dengan sunat kelamin, tetapi mereka menyalahgunakan Hukum Taurat sebagai alat untuk pamer ketaatan dan kesalehan supaya bisa meninggikan dan menyombongkan diri. Mereka sengaja memakai tali sembahyang dan jumbai yang panjang supaya dianggap orang terpandang. Mereka suka dipanggil rabi dan duduk di tempat terhormat (Matius 23). Mereka suka berdoa di pinggir-pinggir jalan dengan doa yang bertele-tele supaya dihormati orang (Matius 6:5-8). Dengan demikian mereka tidak bersunat hati dan telinga meskipun sudah bersunat kelamin.

Maka seperti yang Tuhan Yesus katakan, orang Farisi mengajarkan Hukum Taurat tetapi tidak melakukannya. Ataupun jika mereka melakukannya, mereka melakukannya demi dilihat dan dihormati orang lain. Mereka adalah yang mempersembahkan sepersepuluh dari segala sesuatu, termasuk bumbu dapur sekalipun (selasih, adas manis, dan jintan) (Matius 23:23), tetapi mereka tidak merawat dan menghormati orang tua mereka sendiri (Matius 15:5-6).

Maka benarlah nubuat Yesaya tentang orang-orang Farisi: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku,” (Matius 15:8).

Mengapa Stefanus dibunuh
Marten van Valckenborch: Parable of the Wicked Husbandmen

Dilema Orang Farisi: Membunuh Nabi Demi Melindungi Citra Diri

Tetapi masalahnya, orang Farisi sangat benci jika kedok busuk dan kemunafikan mereka dibongkar dan dicela oleh siapapun juga. Bagi mereka itu adalah penghinaan yang pantas untuk diganjar dengan pembunuhan. Oleh karena itu mereka membunuh nabi-nabi yang mencela mereka dan memperingatkan mereka untuk bersunat hati dan telinga. Dan tidak hanya nabi, tetapi Anak Allah pun dibunuh karena sudah membongkar kebusukan mereka. Dengan demikian mereka sendiri melanggar Hukum Taurat yang mereka banggakan itu. Pedang Roh yang tajam inilah yang keluar dari mulut Stefanus.

Maka genaplah perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur yang dijelaskan Tuhan Yesus di Matius 21, Markus 12, dan Lukas 20.

Penggarap-penggarap kebun anggur itu menggambarkan orang-orang Farisi. Sebenarnya kepada merekalah dititipkan kebun anggur (yaitu bangsa Israel itu sendiri) karena orang-orang Farisi sangat paham akan Hukum Taurat. Mereka dimaksudkan untuk mengajar Hukum Taurat kepada bangsa Israel.

Tetapi ketika Allah mengirim hamba-hambaNya, yaitu para nabi, untuk memanen anggur karena sudah tiba musimnya, orang-orang Farisi itu justru mengusir, memukul, melukai, dan membunuh nabi-nabi itu. Ketika anak pemilik kebun anggur itu datang pun (Yesus), mereka juga membunuhnya. Orang Farisi berlaku demikian karena mereka ingin menguasai dan memiliki kebun anggur itu. Dengan kata lain, mereka ingin menjadi tuhan atas bangsa Israel. Mereka ingin diri merekalah yang dijadikan panutan, dipuji, dan disembah. Itu sebabnya Tuhan Yesus menyebut mereka “ular-ular” dan “keturunan ular beludak” (Matius 23:33) karena perilaku mereka mencerminkan sifat-sifat Iblis. Hanya Iblis yang ingin menyamai Yang Maha Tinggi, mendirikan tahta, dan mengatasi bintang-bintang Allah (Yesaya 14:13-14).

Mengingat Stefanus penuh dengan Roh Kudus saat menyampaikan pembelaannya, maka apa yang dikatakan Stefanus adalah pedang Roh. Di Alkitab tertulis bahwa anggota-anggota Mahkamah Agama yang mendengar semuanya itu tertusuk hatinya dan menggertakkan gigi (Kisah Para Rasul 7:54). Seperti yang sudah-sudah, mereka bukannya bertobat dan memohon pengampunan kepada Allah tetapi justru menghujani Stefanus dengan batu demi menyangkal bahwa diri merekalah yang sesat dan munafik.

Orang-orang Farisi di zaman sekarang pun, yaitu mereka yang berhati Farisi dan menganut paham Farisi, masih memburu saksi-saksi Yesus seperti Stefanus hingga saat ini. Cara mereka tidak lagi barbar seperti melempari batu, tetapi mereka membungkam mulut saksi-saksi Yesus dengan intimidasi, teror, atau suapan uang dan gemilang harta kekayaan.

Pekerjaan Iblis tidak akan berhenti sebelum akhir zaman, tetapi kita harus selalu penuh dengan Roh Kudus. Kita juga harus berani mengutarakan kebenaran seperti Stefanus, sampai membuat Tuhan Yesus bangkit berdiri dari tahtaNya dan memberikan standing ovation kepada kita.

Haleluya!

Cover image: Martyrdom of Saint Stephen - Bernardo Cavallino (1645).
Tags: in Editorials
Related Posts

Latar Belakang Markus dan Pekerjaannya Menurut Alkitab

October 4, 2020

October 4, 2020

Latar belakang Markus dan pekerjaannya sebagai rasul dan penulis Injil pertama masih sangat relevan dengan kondisi pelayanan misionaris di zaman ini.

Ini Tandanya Kamu Sebenarnya Belum Mengenal Allah

July 24, 2020

July 24, 2020

Mungkin kamu sudah merasa mengenal Allah, tapi sebenarnya kamu tidak tahu apapun tentang Dia. Cari tahu tanda-tandanya di sini.

Antara Taj Mahal dan Persembahan Kepada Tuhan

July 24, 2020

July 24, 2020

Manusia bisa membangun situs bersejarah untuk mengenang kekasihnya, tapi apa yang sudah kita buat untuk Bait Allah yaitu Gereja?

Bolehkah Kita Memberikan Persembahan Kepada Orang Miskin?

July 31, 2020

July 31, 2020

Anda merasa gereja tidak mengelola persembahan dengan baik, sehingga memberikan persembahan kepada orang miskin. Apa kata Alkitab mengenai hal ini?

Perumpamaan Kambing dan Domba: Kenapa Kambing Dikutuk Tuhan?

August 18, 2020

August 18, 2020

Dalam perumpamaan kambing dan domba, Tuhan Yesus memakai kambing untuk menggambarkan orang-orang yang tidak mengasihi Dia. Mengapa demikian?

Masuk Sorga dengan Berbuat Baik adalah Ajaran Sesat

September 26, 2020

September 26, 2020

Banyak orang Kristen menyangka bahwa mereka dapat masuk sorga dengan berbuat baik. Padahal ini adalah ajaran sesat karena Allah tidak berfirman demikian.

Syarat Menjadi dan Tugas Pendeta Menurut Alkitab

October 17, 2020

October 17, 2020

Alkitab sudah menuliskan syarat menjadi pendeta dan tugas pendeta menurut Alkitab. Tanpa tambahan dari sumber di luar Alkitab, syarat dan tugas itu sudah berat.

Keadilan Yunus vs Keadilan Allah

August 14, 2020

August 14, 2020

Yunus menolak diutus Allah karena merasa orang Niniwe layak dihukum. Ini adalah bentuk keadilan Yunus yang tidak sesuai dengan keadilan Allah.

Siapakah Roh Kudus Itu?

August 20, 2020

August 20, 2020

Mayoritas orang Kristen tidak tahu siapakah Roh Kudus itu, padahal ada banyak ayat Alkitab yang menerangkan tentang Roh Kudus.

Biografi Markus Menurut Alkitab

September 21, 2020

September 21, 2020

Markus bukanlah kedua belas murid Yesus yang kemudian menjadi rasul. Tetapi justru dia yang pertama kali menuliskan kitab Injil. Siapa sebenarnya dia?

Anda Sudah Mati Rohani Saat Lahir Ke Dunia

July 26, 2020

July 26, 2020

Banyak orang Kristen mengira maut adalah mati secara jasmani, padahal sejatinya kita semua sudah mati secara rohani saat lahir ke dunia.

Iman Yang Mampu Melihat Allah

July 27, 2020

July 27, 2020

Mengapa Allah tidak memperlihatkan DiriNya sehingga manusia lebih mudah untuk percaya? Dari mana kita bisa tahu Dia benar-benar ada dan bekerja?

Jangan Gegabah Merasa Menderita Seperti Ayub

August 5, 2020

August 5, 2020

Ayub menderita karena memang diizinkan oleh Allah. Tapi ketika Anda menderita, jangan langsung gegabah menganggap Anda seperti Ayub.

Sorga Bagi Si Pelacur Binal

August 29, 2020

August 29, 2020

Seorang pelacur diangkat menjadi permaisuri karena cinta kasih sang raja. Maka betapa lebihnya kasih Raja Sorga yang memberikan Kerajaan Sorga bagi pelacur rohani seperti kita.

Kota Perlindungan Itu Bernama Yesus

August 16, 2020

August 16, 2020

Di Perjanjian Lama, Kota Perlindungan adalah suaka bagi para pembunuh. Ini adalah kiasan akan Yesus yang adalah perlindungan bagi semua orang berdosa.

Comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *